 |
| Foto oleh Linda Setiyowati |
KASONAWEJA__Foto ini diambil saat petugas tenaga kesehatan melakukan pendataan dan pemeriksaan fisik pada keluarga S. Terlihat sepintas seorang wanita yang merupakan istri dari keluarga S berjalan dengan menggendong anaknya menuju area belakang rumah. Area belakang rumah terdapat sebuah tong besar sebagai penampung air yang dimana air tersebut di dapat dari air hujan. Air hujan yang biasa digunakan oleh keluarga S, untuk kebutuhan air dalam rumahnya. Salah satu fungsi penampungan air yaitu digunakan untuk kegiatan mandi.
Siang itu seorang ibu sedang membantu anaknya membersihkan diri dengan menggunakan peralatan mandi seadanya. Peralatan mandinya hanya berupa sabun batang dan sikat gigi untuk ukuran orang dewasa, serta handuk besar yang ibu gantungkan pada sisi dinding kayu rumahnya. Sisi kepedulian ibu terhadap kebersihan anaknya masih terlihat.
Ibu mulai mengambil air dengan gayung yang sudah tersedia didalam tong. Kemudian perlahan-lahan ibu membasuh tubuh anaknya di setiap bagian tubuhnya. Perlahan-lahan pada bagian tubuh anaknya di basuh dengan menggunakan sabun. Sabun yang digunakan, biasa di gunakan oleh keluarga S yang tinggal bersama si ibu dan anaknya. Setelah semua bagian sisi-sisi tubuh terkena sabun, maka ibu mulai membasuh bagian sisi tubunhnya dengan air. Berkali-kali mengguyurkan anaknya secara perlahan pada sisi tubuh yang masih melekat dengan sabun.
Menurutnya setelah anak di mandikan, anaknya akan terlihat lebih bersih dan segar. Kemudian si anak di bantu mengajarkan cara menggunakan sikat gigi. Dan dilanjutkan untuk di keringkan dengan handuk. "Anak ini senang sekali bermain seharian, badan kotor semua. Kalau begini kan jadi lebih bersih", tambahnya.
 |
| Foto oleh Linda Setiyowati |
SUNGAI MAMBERAMO___Perjalanan siang itu sangat begitu melelahkan. Rasa haus yang dirasakan oleh tenaga kesehatan yang sedang melakukan pendataan terhadap warga setempat. Saat itu pendataan sedang di lakukan pada rumah-rumah warga didaerah pinggiran sungai. Hamparan sungai bercampur lumpur membuat warna yang tampak begitu keruh dan gelap. Terik panas yang memancar membuat kulit seperti terbakar, sehingga yang dirasa adalah menusuk bawah kulit.
Tawa canda anak-anak terdengar sangat jelas. Suara melengking itu di dapat pada area hantaran pinggiran sungai. Ternyata “sungai tidak hanya sebagai jalur transportasi, di sini sungai menjadi pendamping. Anak-anak banyak menghabiskan waktunya di tepi sungai, bermain”. Mereka bersama-sama bermandikan air pinggiran sungai sambil bermain-main dengan lumpur.
Sangat jelas air itu sangat keruh dan kurang bersih. Tetapi hal yang mereka lakukan sudah menjadi kebiasaan hidup bagi mereka. Keseruan bagi mereka membuat mereka lupa akan hal sehat. Air yang tidak bersih dapat menyebabkan banyak hal pada penyakit, salah satunya adalah penyakit kulit.
Kegiatan mereka pun tidak didampingi oleh orangtuanya. Anak-anak disana seperti aman-aman saja. Mereka melakukan kegiatan bermain di pinggir sungai, karena mereka kegerahan dengan kondisi cuaca yang begitu terik. Mereka akan melakukannya kembali disaat mereka kegerahan. Peralatan yang mereka gunakan adalah lumpur. Sama sekali mereka tidak menggunakan peralatan mandi seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, sampo, dan sebagainya.
 |
| foto oleh Linda Setiyowati |
KASONAWEJA, __ Di sebuah desa di Mamberamo Tengah memberikan pemandangan menarik tentang kegiatan sehari-hari orang disana. Sebuah kampung berisikan jumlah penduduk yang tidak banyak namun cukup mewakili gambaran sebagian besar penduduk di Kasonaweja. Rumah semi panggung dengan bahan dari kayu kelapa menjadi tempat tinggal sebagian besar penduduk di sini.
Adalah R yang merupakan salah satu warga yang sudah menetap lama di Kasonaweja. Dia tinggal di rumah kayu yang disekat dengan triplex bersama suami dan seorang adik kandungnya. Suami R tidak ada di tempat ketika rombongan dari tenaga kesehatan melakukan pendataan di daerahnya karena harus pergi ke kota yang ada di bagian lain dari sungai yang ada di Kasonaweja. Pemukiman penduduk di Membramo terpisahkan dan dibangun di tepi-tepi sungai sehingga kapal/perahu motor merupakan transportasi paling efektif dan sering digunakan oleh masyarakat untuk beraktifitas.
“untuk mendapatkan air saya harus menuruni anak tangga di belakang rumah. Demi menjaga kebersihan diri, saya melakukan ini setiap hari”
Tidak seperti tempat pemukiman pada biasanya yang sudah tersentuh pemerataan pembangunan pemerintah, rumah di sini tidak teraliri air. Untuk mendapatkan air penduduk harus mengambilnya di tempat penampungan air sederhana seukuran drum minyak yang airnya didapat dari pipa panjang yang tertanam di dinding tebing. Tempat penampungan tersebut terletak di belakang rumah mereka yang dapat diakses melalui jalan setapak dan tangga kecil tanpa penerangan. Dengan debit air yang kecil dari pipa tersebut, penduduk hanya bisa menggunakan seadanya untuk kebutuhannya sehari-hari.
“Untuk mendapatkan air, saya harus menuruni anak tangga di belakang rumah dan mengambilnya di bak air. Demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk kebersihan diri saya melakukan ini setiap hari”, ujar R ketika ditanyakan seputar kegiatannyakala itu.
Kebutuhan air dibawa menggunakan ember dari penampungan air ke rumah setiap hari. Air yang biasa dibawa digunakan untuk dikonsumsi, untuk kegiatan lain seperti mandi, menggosok gigi biasanya R langsung melakukannya di dekat penampungan air tersebut.
Bagi sebagian besar penduduk Kasonaweja hal ini merupakan sebuah keseharian yang musti dilakukan demi memenuhi kebutuhan akan air. Masyarakat tetap berusaha memenuhi kebutuhan mereka di tengah keterbatasan akses mereka terhadap pembangunan. Air merupakan hal vital yang diperlukan seluruh makhluk hidup. Sudah saatnya pemerintah memikirkan cara agar R dan warga lain yang bernasib serupa ikut merasakan ketersediaan air bersih demi memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. (LS)